
Description:
About, Activities, Hobbies etc... etc.. Hope you can found it here
Contents:
Kalau sudah begini, rakyat harus percaya siapa?
FRESH, Seger dari jam 14.00 Hari Jum’at (6 Nov 09), MetroTV berhasil mewawancarai Ari Muladi, saksi kunci untuk
Metrotvnews.com, Jakarta: Salah satu saksi kunci dari kasus dugaan rekayasa kriminalisasi dua pimpinan non-aktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Ary Muladi, akhinya angkat bicara. Ary membantah telah menyerahkan sejumlah dana kepada Ade Raharja maupun pimpinan KPK lainnya. Bahkan, Ary pun mengaku tidak mengenal para pejabat KPK. Dia mengaku siap dipertemukan dengan para pejabat KPK.
Pernyataan Ary Muladi ini bertolak belakang dengan keterangan Kepala Polri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, selama delapan jam, dari Kamis malam hingga Jumat (6/11) dini hari tadi. Saat itu, Kapolri dengan yakin menyebutkan waktu dan tanggal serta tempat penyerahan uang tersebut.
Ary Muladi disebut-sebut sebagai orang kepercayaan Anggoro Widjojo, tersangka kasus dugaan korupsi proyek Sistem Komunikasi Radio Terpadu di Departemen Kehutanan. Konon, melalui Ary inilah, Anggoro meminta bantuan agar kasus yang menimpanya tidak disidik pihak KPK. Karena itulah, Anggoro rela menggelontorkan sejumlah uang untuk pejabat KPK.(DSY)
Berita Videonya bisa dilihat disini. Hemat bandwidth kok.

Download MP3 Rekaman Penyadapan KPK, Percakapan Anggodo yang diperdengarkan di MK
Bagi yang tidak sempat menyaksikan langsung via TV, Radio Elshinta telah mengupload file-file percakapan Anggodo terkait kasus Masaro oleh KPK, sehingga Anda dapat mendownload file-file audio penyadapan acara pemutaran rekaman penyadapan Anggodo oleh KPK. KPK menyadap percakapan Anggodo dengan berbagai pihak, dan untuk pertama kali Mahkamah Konstitusi (MK) membuka secara terbuka rekaman percakapan Anggodo pada Selasa, 3 November 2009.Terdapat 9 bundel rekaman percakapan yang berdurasi sekitar 4,5 jam. Percakapan Anggodo untuk menyusun strategi kasus suap menjadi kasus pemerasan pada pimpinan KPK, sekaligus mempengaruhi Ari Muliadi untuk kembali pada BAP awal. Pada BAP awal, Ari Muliadi mengatakan menyerahkan uang kepada pimpinan KPK, namun pada akhirnya Ari Muliadi mencabut pernyataannya yang mana uang tersebut tidak ia serahkan kepada pimpinan KPK.
Berikut ada 10 file mp3 rekaman pada sidang terbuka MK.
1. Audio Pembuka oleh Prof. Mahfud MD (205 kB)
Deskripsi : Bukan isi rekaman penyadapan Durasi : 1 menit 9 detik
2. Percakapan Penyelesaian Kasus Masaro oleh Anggodo (1.7 MB)
Deskripsi : Percakapan Anggodo dengan mantan Jamintel Kejagung Wisnu Subroto dan berbagai pihak. Percakapan disini turut membahas Antasari dan percakapan agar BAP kasus Ari Muliadi sesuai dengan kronologis. Disini juga menyebut aliansi Susno Duadji – Wisnu Subroto yang menyumpai Anggoro Widjaja di Singapura. Durasi :9 menit 43 detik
3. Perincian Uang untuk Penyuapan KPK oleh Anggodo via Ari Muliadi. (1.4 MB)
Deskripsi :Dalam percakapan ini, nama-nama Susno Duadji disebut-sebut. Dari lingkungan ini, tersebut nama Kabareskrim Komjen Susno Duadji serta sejumlah nama penyidik, yaitu Benny, Parman, Gupu, dan Dik Dik. Nama terakhir identik dengan nama Wakabareskrim Irjen Dik Dik Mulyana. Durasi : 8 menit 13 detik
4. Pencatutan nama SBY(2.4 Mb)
Deskripsi : Transkrip rekaman yang salah satu isi pembicaraannya mencatut nama RI 1 juga dilakukan antara Anggodo dengan yang Ong Juliana. Durasi : 13 menit 52 detik
5. Minta Bantuan Kejaksaan Agung (1.6 Mb)
Deskripsi : - Durasi : 9 menit 13 detik
6. Minta Bantuan LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) (2.0 Mb)
Deskripsi : Salah satu isi pembicaraan terungkap ada lawan bicara Anggodo (xxx) khawatir teleponnya disadap dan meminta Anggodo untuk menggunakan nomor baru. Selain itu, terjadi juga perbincangan dengan orang LPSK, Pak Ketut dan sejumlah orang pihak lain. Anggodo : “Ini nomor handphone saya tolong direkam (simpan) lagi pak. Perintah Pak.” XXX : “Takutnya kita disadap pak.. Lebih baik apa namanya, saya mau bapak buat nomor telepon baru dan saya cari nomor telepon baru. Durasi : 11 menit 31 detik
7a. Lapor memenangkan kasus ’sementara’/pembukaan (74 Kb) 7b. Lapor ‘kemenangan’ dan buat ancaman buat Candra M Hamzah (424 Kb)
Deskripsi :
Anggodo : Cepetan email-en 0-1. Menang kita, tersangka sudah ditahan…Yo wis mulai sesok nomore anyar kabeh. (pembuka)
Anggodo : Ternyata Truno 3 komitmennya tinggi sama saya. (Truno 3 = Kabareskrim Susno Duadji) Lelaki : O, gitu bos yo. Anggodo : Lho, kan wis mlebu bos (Lho, kan sudah masuk bos). Lelaki : Iyo toh. Anggodo : Gak dilebokno tapi wis TSK, saiki nonaktif. Tapi gak gathuk koncone kene situk. (Enggak dimasukkan, tapi sudah jadi tersangka. Sekarang nonaktif. Tapi, teman kita satu kena). Lelaki : OC. Anggodo : Dudu, Bibit. (Bukan, Bibit). Lelaki : O, iku ternyata kene. (O, itu ternyata (teman) kita). Anggodo : Lek iku kan jek kancane kene bos, tapi nek situk Chandra sesuk dilebokno malah tak pateni neng njero. (Lha, itu kan sebenernya temen kita sendiri Bos, tapi kalau besok Chandra yang dimasukin malah saya bunuh di dalam).
Durasi : 2 menit 25 detik
8. Menyusun Strategi dari Suap menjadi Pemerasan (5.1 MB) -> terpanjang
Deskripsi : Dalam rekaman ini diperdengarkan pembicaraan antara Anggodo dengan yang diduga Kosasih, antara Anggodo dengan yang diduga salah seorang Direktur PT. Masaro Putranefo, antara Anggodo dengan “seseorang”, antara Anggodo dengan yang diduga kuasa hukumnya Bonaran Situmeang untuk menyusun strategi dari suap menjadi pemerasan. Durasi : 29 menit 15 detik
9. Perhitungan fee pihak terkait (2.08 MB)
Deskripsi : Dalam transkrip rekaman ini diperdengarkan pembicaraan antara Anggodo dengan yang diduga Alex (Pengacara), antara Anggodo dengan “seseorang”, dan antara Anggodo dengan yang diduga Bonaran Situmeang terkait perhitungan fee pihak terkait. Durasi : 11 menit 48 detik
10. Untuk mempengaruhi Ari Muliadi (AM) kembali ke BAP awal. (belum dapat link)
Deskripsi : - Durasi : –
Catatan : ada beberapa bagian file ini yang terpotong.
Terima kasih kepada seluruh pihak, majelis hakim MK, tokoh nasional dan Gerakan 1.000.000 Facebookers yang mana atas perjuangan itu semua, pada 3 November 2009 malam, Pak Bibit Samad Rianto dan Pak Chandra M Hamzah dibebaskan dari Rutan Kelapa Dua. Catatan : status pak Bibit dan Chandra masih tersangka.
Kumpulan file diperoleh dari Elshinta, News and Talk (4 November 2009)

Ganda Pratama Leonidas dan 810
Ini masih buntut dari kasus Evan yang beken. Kalau kita melihat kembali skrinshut di status FB tersebut, maka akan terlihat satu orang yang mendukung sikap Evan, yaitu Ganda Pratama Leonidas. Saya penasaran dengan akun yang satu ini, namun ternyata ketika saya periksa di facebook, akun tersebut telah dihapus. Lihat disini. http://www.facebook.com/Ganda.Pratama . Nah si Ganda Putra memberikan komentar seperti ini
gue tulis ulang, biar lebih jelas.
Mas evan, Gak ada gunanya kita berkoar-koar disini mas,.. jika sudah hadapan 810.
Sebagai orang awam, tentu saya penasaran dengan istilah 810. Sebenarnya apa sih 810.
Akhirnya dengan bantuan om google, saya mendapatkan juga arti istilah 810 tersebut.
Aku masih di rumah saat itu. Masih satu jam lagi, sebelum berangkat ke kantor. Namun ponselku berbunyi, nampak nomer G di ponselku. “Taruna Kang?” (Taruna adalah bahasa sandi polisi yang berarti informasi) “Merapat ke Polsek…..ada yang mau kita 810!” “Oke Kang!”
Ini pengalaman pertamaku di bagian kriminal, diajak untuk meliput eksekusi mati seorang penjahat. 810 adalah kode polisi yang berarti mati. Tidak hanya untuk manusia, jika baterai handy talky mereka habis, mereka juga akan mengatakan 810.
Buru-buru aku bersiap ke kantor, tidak lupa menelefon kamerewan yang dipasangkan denganku malam itu
“Halo bos, bisa datang cepat? Ada taruna di Tangerang, harus nyampe jam 9 disana” “Oke, gak masalah, ketemu di logistik aja ya” *** Jam 9 kurang 5 menit kami tiba di polsek itu. G sedang duduk di halaman. Atasan G, GH, berpangkat Inspektur Dua, sedang mempersiapkan pistol revolvernya. “Kang, siapa ni yang mau di 810?” tanyaku kepada G “Rampok. 3 hari lalu rampok motor. Pemiliknya tewas, ia tebas pake celurit. Ini bukan yang pertama. Mending di 810 aja lah” jawab GH mendahului G. “Boleh ketemu gak?” “Tuh di sel. Tapi jangan diambil gambarnya ya, ngobrol-ngobrol aja.” “Oke ces” (Ces adalah panggilan akrab sesama teman di Makassar) *** Tidak ada yang bisa membuat orang takut. Perawakannya kurus, dan wajah yang nampak lugu. Satu-satunya yang bisa mewakili perilakunya adalah tato di lengan sebelah kanan. Aku tak bisa dengan jelas melihat gambar tatonya. Sel tanpa lampu. Hanya terbantu oleh cahaya dari teras belakang Polsek. Ia nampak tidak berdaya. Aku sempat tidak percaya, bahwa yang di depanku adalah seorang perampok berdarah dingin, yang tidak segan-segan menebas leher orang dengan cerulit atau golok. Ada perasaan aneh di dalam diriku. Pengetahuan tentang kematian. Ini pertama kalinya, aku bisa mengetahui manusia yang akan mati tidak lama lagi. Kematian adalah rahasia langit, yang hanya diketahui oleh penciptanya. Aku berhadapan dengan kematian yang menjelang, kematian yang tidak ‘prosedural’. Kematian yang diciptakan oleh manusia yang juga tidak pernah tahu kapan Ia mati.
“Abang kapan tertangkap?” Ia hanya terdiam “Eee…Abang nyesel gak sudah membunuh orang?” “Iya” jawabnya pelan “Abang punya anak istri?” Iya kembali mengangguk pelan.
Perlahan ia nampak berusaha berganti posisi. Tapi tiap gerakannya disertai suara meringis, dan mimik muka pesakitan. Betis sebelah kirinya ada perban. Di sekitarnya nampak darah yang baru mengering. Luka tembakan buser tadi sore, tembus mengenai tulang. Ingin sebenarnya mengobrol lebih lama, namun rasanya aku kehilangan selera. ***
Iring-iringan mobil kami menuju sebuah tempat gelap dan sepi. Aku tegang. Kami pun turun. GH menghampiri kami. Ia nampak gagah, sekaligus nampak seperti aktor-aktor di film-film cowboy. Di sampingnya, 5 buser telah siap dengan laras panjang SS1 dan pistol jenis revolver.
Persis seperti sutradara, ia mengarahkan pengambilan gambar.
“Kamerawan nanti berdiri dibelakang. Nanti kita pura-pura lari, sambil menembak ke atas.Nah lu juga lari, sambil ngambil gambar, biar seperti kita sedang mengejar penjahat. Oke bos?” kata GH bak malaikat penjabut nyawa
“Siap!” kata para kamerawan, persis seperti prajurit kepada komandannya Si perampokpun digiring ke depan. Borgolnya dilepas. Ia berjalan tertatih-tatih menahan sakit menembus tulang.
Dalam hitungan detik, drama itupun bergerak cepat.
Dor….Dor…Dor…
Bising letusan memekakkan telinga, merusak malam yang dingin dan damai. Seonggok tubuh kurus tergeletak. Sebuah lubang nampak tepat di dadanya. Nyawanya tinggal setengah. Malaikat pencabut nyawa tengah menjalankan tugasnya, bersamaan dengan bunyi dengkurnya, yang perlahan menghilang bersama malam yang kembali sepi. Sebuah lagu Billie Holiday, “Body and Soul” mengalun pelan, menutup kisah getir malam itu. ***
Pukul 12.35 siang, di depan sebuah warung mi rebus, beberapa tukang ojek nampak serius menonton program berita kriminal.
Sepenggal berita berbunyi : “Seorang perampok berdarah dingin, minggu malam, di Tangerang, tewas diterjang peluru polisi, saat berusaha lari….”
(berdasarkan kisah nyata) Tangerang, 2003

Nih, Profil Bibit Samat Riyanto menurut Penuturan Rekannya
VIVAnews — Di hari ulang tahunnya yang ke 64, Bibit Samad Riyanto telah empat hari mendekam di dalam tahanan Brimob Polri, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Badan Reserse Kriminal Polri menahan pria kelahiran Kediri, Jawa Timur, 3 November 1945, dengan tuduhan menyalahgunakan wewenang dan kasus penyuapan saat masih aktif sebagai Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi. Setelah jadi tersangka, Presiden sudah menonaktifkannya. Tuduhan yang sama juga dialamatkan ke Chandra M Hamzah, juga Wakil Ketua KPK yang sudah dinonaktifkan. Keduanya dikurung ditempat yang sama. Bibit saya kenal sejak 1999. Selama kenal dengan Bibit, saya tak pernah makan bersama di restoran mewah. Biasanya pun kami duduk di mall, salah satu tempat favorit kami adalah kedai kopi di kawasan Mall Ciputra. Waktu itu Bibit menyetir sendiri mobilnya sedan Toyota Corolla bekas buatan tahun 1998. Warna hijau metalik tua. ******* Bibit menghabiskan masa sekolahnya di kampung kelahirannya, Kediri. Berasal dari keluarga tak mampu yang hanya sanggup membiayainya hingga tamat SMP. Berikutnya dia membiayai sekolahnya sendiri, menjadi kuli tenun. Tamat SMA, bibit masuk Akabri (sekarang Akpol) dan lulus pada 1970. Alasannya masuk polisi sederhana saja, untuk menyambung hidup sembari menjadi penegak hukum.
Setelah lulus, Bibit menyunting Sugiharti, perawat dari Jawa Tengah. Mereka memiliki empat buah hati, yaitu Yudi Prianto, Bayu, Endah Sintalaras, dan Rini Wulandari. Dua di antaranya meniti karir yang sama dengan bapaknya yakni menjadi polisi. Ajun Komisaris Polisi Bayu Suseno kini menjabat sebagai Kepala Polsek Pagedangan, Tangerang.
Selama menjadi polisi, dia pernah menjabat di beberapa posisi penting. Di antaranya Kepala Polres Jakarta Utara, Kapolres Jakarta Pusat, Wakil Kepala Polda Jawa Timur dan Kepala Polda Kalimantan Timur. Ketika menjadi Kepala Polda Kaltim, Bibit tegas mengungkap illegal logging. Bibit menangani 234 kasus ilegal logging. Bibit bilang, si tauke yang terkena kasus berani menyuapnya Rp 500 juta- Rp 1 miliar. Buat mendapatkan sekedar Rp 100 miliar, kalau dia mau itu perkara mudah. Namun itu tak dilakukannya, hingga kemudian dia terpental dari kursi Kapolda. Setelah itu pangkatnya mentok di bintang dua. Bahkan diujung kariernya dia tak diberi jabatan apapun. Hingga suatu kali, kami pernah diskusi soal rencana Presiden Abdurrahman Wahid yang hendak menunjuknya menjadi Kepala Polri. Dia sudah dipanggil, bahkan Gus Dur memintanya memaparkan programnya sebagai Kepala Polri.
Saat itu, saya menyarankan padanya mempublikasikan programnya itu ke media massa. Dia mengkritik kinerja di kepolisian. Hasilnya, ya dia tak jadi Kepala Polri, malah pensiunnya makin dipercepat. Rupanya, dia sudah mempersiapkan diri untuk menjudi dosen. Bibit menamatkan studi hingga S3 dan mendapat gelar Doktor. Sejak itu dia lebih banyak aktif sebagai pengajar di Universitas Bina Nusantara, Universitas Negeri Jakarta, PTIK, dan menjadi rektor Universitas Bhayangkara.
Setalah tak aktif di kepolisian, selain mengajar dia rajin menulis buku. Antara lain, bukunya yang berjudul “Pemikiran Menuju Polri Yang Profesional, Mandiri, Berwibawa, Dan Dicintai Rakyat.” Belakangan dia terpilih menjadi salah seorang pimpinan KPK pada 2007. Di sini pun dia masih meluangkan waktunya untuk menulis buku, salah satunya adalah “Anatomi Korupsi di Indonesia.” Buku ini hampir rampung. Satu lagi buku yang dipersiapkannya adalah “Masih Pantaskah KPK Dipertahankan”. ****** Bibit adalah polisi yang tak pernah mengklaim dirinya sebagai seorang penegak hukum putih bersih. Ketika uji kelayakan untuk menjadi salah seorang pemimpin KPK, Bibit pernah bilang bahwa dia pernah menerima bantuan bahan bangunan, tetapi bukan dari pihak yang berpekara. Dari uang itulah dia membangun rumahnya yang waktu itu Rp 26 juta. Itu terjadi saat dia menjabat Kepala Polres di kawasan Jakarta.
Rumah yang sampai kini masih ditempatinya itu berada di Pedurenan, belakang Perumahan Griya Kencana I, Ciledug, Tangerang. Untuk menuju ke kampung, ada sebuah pintu masuk di belakang asrama polisi di sana. Itu adalah pintu masuk perumahan. Nah, rumah Bibit meminjam gerbang Griya Kencana. Di pojok belakang kompleks ada sebuah gang yang pas untuk satu mobil, di sinilah rumahnya.
Menghadap ke barat, rumahnya yang bercat putih itu berdiri di atas tanah seluas 600 meter. Tanah itu dibeli pada anak buahnya pada 1989 seharga Rp 2.000 per meter. Bentuk rumahnya biasa saja. Di dalam rumah tak ada barang mewah. Di depan rumah ada tanah kosong yang biasa digunakan oleh pedagang menaruh gerobak pedagang kaki lima, juga tempat membakar sampah.
Tak ada barang mewah di dalam rumahnya. Di garasi rumahnya masih ada mobil VW tua. Namun, kini sedan Corolla itu sudah tak ada lagi. Di garasinya ada terparkir mobil Toyota Kijang Innova dan Toyota Avanza. Keduanya berwarna hitam.
Itulah sebabnya saya percaya jika sejumlah polisi bilang Bibit adalah orang yang sederhana. Bahkan ucapan itu juga datang dari Mantan Kepala Polri, Jenderal (purnawirawan) Chaeruddin Ismail. “Mas Bibit memang orangnya sangat sederhana,” katanya *****
“Anatomi Korupsi di Indonesia.” Begitu judul buku yang sedang dirancang Bibit. Saya diminta untuk mengeditnya. Tapi baru selesai separuh. Ini lima bulan lalu. Penyelesaian buku agak tersendat, karena kesibukannya.
Rabu pekan lalu, saya bertemu lagi dengan Bibit di rumahnya yang terletak di Pedurenan, Ciledug, Tangerang. “Sekarang kan aku lagi nganggur. Jadi bukunya hampir selesai, pekan depan ya,” kata Bibit. Maklum setelah dinonaktifkan kesibukannya cuma berurusan dengan wajib lapor, menggugat ke Mahkamah Konstitusi, dan sisa waktunya dimanfaatkan untuk menulis buku.
Dia meminta saya mencari penerbit untuk mencetak bukunya. “Kita ambil royaltinya saja,” kata Bibit kepada saya. Sejauh ini sudah beberapa penerbit saya jumpai. Hasilnya, mereka menolak dengan alasan buku itu kurang menjual. Tetapi Bibit tak menyoalnya. “Kita cari lagi, atau kita kirim bertahap ke media massa tulisannya, bagaimana?”
Pada Kamis pekan lalu, Bibit malah tak bisa keluar lagi dari Mabes Polri. Setelah menjalankan wajib lapor, dia langsung dijebloskan ke dalam tahanan Mabes Polri. Jumat dia dikirim ke tahanan Brimob di Kelapa Dua, Depok.
Saya nggak tahu apakah akan bisa menjenguknya dalam tahanan, agar bisa membantu Bibit menyelesaikan bukunya itu. Mudah-mudahan bisa rampung. Sebab, dia sangat bersemangat dengan bukunya itu. Dia sangat ingin mengurai karut marut korupsi di negeri ini.
Home
|